|
tak memerindingkan kulit ari yang sedari pagi menanti buat sekedar bayu menyentuh ada apa yang terjadi? kuperhatikan awan putih berarak yang jalannya terlihat semarak tapi, tetap tak mampu berteriak tentang apa yang berbunyi, berderak-derak ah, ya.. bukankah telinga juga sedang mendengar lagu merdu dari alunan syair mendayu-dayu, melenakan rasa, merasukkan jiwa tapi.. tetap saja aku merasa hampa tak ada rasa lalu kenapa?? mataku melirik seekor burung yang bertengger seperti ingin berujar, tanpa kalimat cuma moncongnya saja komat-kamit telinga kubuka lebar buat dengarkan ceritanya oooo.. baru kusadari kini, aku lupa bilang tadi malam, pada bentang alam sebelum terlelap kealunan bahwa aku sangat menanti, meski dalam mimpi dirimu kucintai, kusayangi, tak mungkin terganti adakah sempat kau rasai?? (Ti9a) |